Minggu, 09 Oktober 2016

CERPEN

Tema       : Perbedaan pandangan antara anak dan orangtua tentang kebiasaan remaja sekarang.
Tokoh        : Nirina, Pak Adi, Radit, Bu Suci, Rini, Niken, B Inah.
Latar         : Di Ruang Keluarga Pagi, Di jalan Raya siang hari, Di rumah kumuh Siang hari, di Sekolah Pagi hari, di Rumah Sakit siang hari
Judul         : “Inilah Kehidupanku”
Pengarang : Sekar Wangi Retno pembayun.
“Inilah Kehidupanku”
            Pagi ini terlihat sangat cerah sang mentaripun mulai menghiasi indahnya pagi. Setiap pagi adalah hal tang paling disenangi Nirina, karena setiap pagi keluarga Nirina bisa berkumpul di ruang makan. Setelah selesai sarapan keluarganya pun berkumpul di ruang keluarga. Tiba-tiba saja ayah Nirina memulai pembicaraan .
Pak Adi : Hari senin ini ayah ada dinas keluar kota sampai hari rabu, jadi kalian berdua berangkat  sekolahnya berangkat sendiri .
Radit     : Perasaan dari dulu Radit berangkat sendiri Yah, hehe (mendekati ayahnya)
Pak Adi : Iya, kamu kan sudah kuliah, kalau adik kamu kan masih SMP. Jadi saat Ayah pergi  keluar kota, kamu harus mengantar adikmu.
Nirina    : Terus pulangnya bagaimana Yah?
Pak Adi : Pulangnya naik angkuatan umum.
Nirina   : Baiklah yah.
            Setelah selesai berbicara, Nirina pun berangkat sekolah bersama kakaknya.
            Pulang sekolah Nirina menunggu angkutan umum  sendirian, karena kebetulan sahabatnya hari ini tidak berangkat sekolah. Karena sangat lama, akhirnyapun dia berjalan menuju kearah jalan raya. Tiba-tiba saja ada anak kecil yang memandangnya.
Nirina : Halo, adik kecil nama adik siapa? (sambil menghampiri anak berumuran 7 tahun)
Rini     : Nama aku Rini kak, nama kakak siapa?
Nirina : Nama kakak Nirina, panggil saja kak Rina. Oya, Rini disini sedang apa?
Rini     : (menundukkan kepala  dan tidak bersuara)
Nirina : Lho kok diam saja kenapa? Apa kakak salah bicara ya ?
Rini     : Enggak kok kak, ikut Rini kak?
Nirina : Ayo, tapi jangan jauh-jauh ya?
Rini     : Iya kakak.
            Rini pun mengajak Nirina kesalah satu perkampungan kumuh. Dimana disitu banyak anak jalanan. Letaknya pun sangat tidak seteril, dan mungkin kurang layak.
Rini       : Inilah kehidupan Rini kak. Semenjak Rini terpisah dari Ayah dan ibu.
Nirina   : Kalau boleh kakak tahu, Ayah dan Ibu Rini dimana?
Rini       : mereka tinggal di Bandung kak, dulu Rini terpisah dengan Ayah dan Ibu di Stasiun. Dan dibawa oleh seorang kesini?
Nirina   : Siapa orang yang membawa Rini kesini?
            Belum Rini menjawab tiba-tiba Rini menarik Rina dan bersembunyi. Dilihatnya 2 orang pria berbadan tegap, dengan kumis yang panjang dan bersuara mengerikan. Setelah orang itu pergi Rini langsung mengajak Nirina pergi dari tempat itu. Di jalan mereka berbicara.
Rini       : Dua penjahat itu kak yang mengajak Rini kesini, dan sekarang Rini harus mengamen dan mencari uang.
            Nirina pun hanya terdiam dan meneteskan air matanya. Akhirnya pun Nirina dan Rini berpisah . Nirina pun pulang. Sampai di rumah, Nirina hanya bisa diam dia merasa sangat kesepian, Ayah dan ibunya pun lebih mementinghan bisnis, sedangkan kakaknya masih menyelesaikan skripsinya.
Bi Inah : Non, itu makanannya sudah siap.
Nirina   : Baiklah, Bi Inah temani Nirina makan ya?.    
Bi Inah : Iya.
            Mereka berdua pun makan bersama, setelah selesai. Nirina langsung berlari ke kamar. Dilihatnya foto ayah, ibu, sahabat, dan kakaknya dia menangis merindukkan keharmonisan yang saat ini sudah tidak ada lagi.
            2 hari sudah berlalu, waktunya ayah Nirina pulang. Di ruang keluarga dilihatnya sosok ayah dan ibunya, yang sedang asik membaca Koran.
Nirina   : Ayah, Nirina berangkat sekolah dan pulangnya naik angkutan umum saja ya?.
Bu Suci  : Tidak, ibu tidak satuju. Anak orang terkaya disekolahan kok naik angkutan umum. Naik mobil ibu saja, nanti Ibu carikan sopir.
Nirina   : Tapi bu?.
Pak Adi : Baik Ayah kabulkan, dengan syarat kamu harus mendapatkan nilai bagus.
Nirina   : iya ayah.
Bu Suci  : Ibu enggak setuju. Ayah ?.
Pak Adi : Iya bu, Biarlah putri kita mandiri.
            Oya semenjak bertemu dengan Rini, Nirina pun Sering pulang sore bahkan terkadang sampai jam 19.00 WIB. Bahkan orang tuanya tidak mengetahui. Namun tiba-tiba saja di sekolah sahabat Nirina bertanya.
 Niken : Akhir-akhir ini kamu kemana saja, aku sering melihat kau pulang malam.
Nirina : Aku main bersama anak jalanan, tapi janji jangan sampai keluargaku mengetahui.
Niken  : Apa? Memang enaknya apa? Kenapa kamu berubah Rina.
Nirina : Aku bisa berbagi dengan mereka, bahkan mereka bisa membagi waktunya untuk aku. Tidak seperti keluargaku, yang selalu mementingkan bisnisnya.
Aku tidak pernah berubah, aku tetap seperti Rina yang dulu. Bukankah sekarang kamu dan keluargaku yang berubah.    
Niken  : Maaf ya Rina, saat ini aku tidak ada waktu buat kamu. Tapi aku boleh ikut kamu kan membantu anak-anak itu?
Nirina : Boleh banget, tapi dengan 1 syarat!.
Niken : Baiklah, apa syaratnya ?.
Nirina : Jangan bilang dengan keluargaku.
Niken  : Baiklah.
            Mereka berdua pun sering menghabiskan waktu bersama anak-anak kurang mampu dan anak jalanan. Persahabatan mereka pun semakin erat.
            Namun 3 minggu kemudian Ayah Nirina mulai curiga, pulang dari jalanan tepatnya pukul 18.00 WIB. Ayah dan ibunya langsung memarahinya.
Pak Adi : Dari mana saja Rina? Jam segini baru pulang.
Nirina   : Tadi ada kegiatan basket di sekolah yah.
Bu Suci : Belajar ekting dimana kamu?.
Nirina   : (terdiam)
Pak Adi : Mau jadi apa kamu, anak perempuan jam segini baru pulang?.
Bu Suci  : Ibu benar-benar tidak menyangka anak ibu yang selama ini, ibu banggakan ternyata sangat mengecewakan. Dimana Nirina yang dulu, yang patuh dengan kedua orang tua, dan tidak pernah mengecewakan orang tua.
Pah Adi : Kamu itu sekolah dulu yang benar, bukan malah main-main kerjaannya.
Nirina   : Nilai Nirina kan masih baik yah? Tidak ada penurunan.
Pak Adi : memang, tapi sikap kamu yang seperti ini, sangat tidak layak dimiliki seorang perempuan.
Bu Suci  : seorang perempuan yang baik itu, tidak pernah pulang malamdan mengecewakan kedua orang tuanya.
Radit     : (menghampiri mereka) Ayah, ibu sudah kita kan bisa tanya baik-baik bukan seperti ini?.
Bu Suci  : Diam kamu Radit tidak usah kamu ikut campur. Percuma kita baik-baiki anak tidak tahu terimakasih ini.
Pak Adi : Besok kamu tidak boleh naik angkutan umum lagi, karena mulai sekarang kamu harus dengan sopir. Dan tidak ada waktu buat bermain, belajar dan belajar.
Bu Suci  : benar kata ayah, dan ibu tidak mau nilai kamu dibawah 9.
Nirina   : Dan apa lagi yah? Dan aku bisa mati jika seperti ini.
            Nirina pun menuju ke kamar, dilihatnya boneka kesayangannya pemberian anak jalanan itu, dia menangis tersedu-sedu.
Pagi harinya keluarga Nirina sudah berkumpul di ruang makan. Tiba-tiba saja Bi inah
Datang dan berkata.
Bi Inah : Tuan, Non Nirina tidak ada di kamarnya, dan dia meninggalkan surat ini.
Bu Suci : Mana suratnya Bi, Biar saya yang membaca,
 
"Ayah, Ibu, kakak maafkan Nirina yang selama ini, sudah mengecewakan kalian semua. Nirina tidak pernah berubah, Nirina masih seperti yang dahulu.
            Dahulu Ayah pernah bilang Bantulah fakir miskin dan orang tidak mampu. Ibu juga sering bilang, saat kita di atas jangan lah lupa dengan yang di bawah.
            Nirina selalu ingat dengan kedua pesan itu, selama ini Nirina pergi untuk memperjuangkan anak jalanan agar mereka bisa berkumpul dengan kedua orang tuanya.
            Namun mungkin Nirina mengecewakan ayah dan Ibu, Nirina Cuma minta disaat Nirina pergi Ayah dan Ibu harus tersenyum dan jangan  pernah sedih.
            Rukun-rukunlah dan jaga kesehatan. Nirina sayang semua."
 
Bu Suci  : Maafkan Ibu sayang?
Radit     : Ibu, ayah ayo kita cari Nirina sebelum dia pergi jauh!.
            Merekapun pergi bersama, baru mereka mau pergi tiba-tiba saja banyak keluarga anak jalanan dan Bapak dan ibu Komnas HAM datang. Untukberterima kasih dengan Nirina, karena telah mempertemukan keluarga mereka.
Pak Adi : Saudara-saudara maaf saat ini Nirina pergi dari rumah, mari kita mencari Nirina   bersama-sama.
            Mereka semua pun pergi mencari Nirina. Pukul 14.00 WIB, saat Ibu Nirina turun dari mobil dan saat menyebrang tiba-tiba saja dari arah barat ada mobil kemudian Brug, terjadilah kecelakaan yang mengahibatkat Nirina luka berat karena menolong Ibunya. Nirina pun langsung dibawa ke rumah sakit.
            Setelah 5 hari Koma , Nirina pun sadar dilihatnya sosok yang sangat dicintainya Ayah, Ibu, Kakak, Sahabatnya, dan Anak Jalanan. Dia pun tersenyum sambil meneteskan air mata di Pipinya.
Bu Suci: Maafkan ibu ya sayang? (mendekati dan memeluk Nirina)
Nirina : Iya Ibu.
Niken  : Rina aku rindu sama kamu. (memeluk tubuh Rina)
Nirina : Aku juga Ken.
Rini     : Kakak terimakasih ya berkat kakak aku bisa berkumpul dengan ayah dan Ibuku.
Nirina : Iya sayang.
Radit   : Oya buat yang belum bertemu dengan keluarganya bagaimana yah?.
Pak Adi : Ayah akan membuatkan sangar, dan bekerjasama dengan polisi dan Komnas HAM untuk mempertemukan keluarga mereka.
Nirina : terima kasih yah.       
            Akhirnya mereka pun hidup bahagia, dan Ayah Nirina tidak lagi terlalu sibuk. Nirina pun sangat senang karena diperbolehkan oleh Ayahnya untuk mengajar anak sangar bersama Niken, keluarga mereka pun sekarang menjadi harmonis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar